Blogroll

Postingan
Komentar

Selasa, 04 Oktober 2011

Teknologi Pendidikan

A. Pengertian Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan memgang peran yang penting, terutama setelah berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, di mana komputer menjadi bagian integraldi dalamnya. Teknologi pendidikan dan berbagai alternatif pendidikannya untuk masa yang akan datang mendorong pengajar memanfaatkannya seoptimal mungkin penggunaan komputer tersebut di bidang pendidikan
Istilah teknologi berasal dari bahasa yunani yaitu technologia yang menurut Webster Dictionary berarti systematic treatment atau penanganan sesuatu secara sistematis, sedangkan techne sebagai dasar kata teknologi berarti art, skill, science atau keahlian, ketarampilan dan ilmu. Jadi teknologi pendidikan dapat diartikan sebagai pegangan atau pelaksanaan pendidikan secara sistematis. Teknologi merupakan merupakan bagian integral dalam setiap budaya. Makin maju suatu budaya, makin banyak dan makin canggih teknologi yang digunakan.
Teknologi pendidikan adalah media yang lahir dari revolusi teknologi komunikasi yang dapat digunakan untuk tujuan-tujuan pengajaran di samping guru buku dan papan tulis.teknologi pendidikan mensyaratkan prosedur, ide, peralatan dan organisasi yang dikaji secara sistematis logis dan ilmiah.
B. Fungsi dan Manfaat Teknologi Pendidikan
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan, pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai, mekipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajran berlangsung, dan konteks pembelajran termasuk karakteristiksiswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Menurut Levie & Lentz, fungsi media pengajaran, khusunya media visual, yaitu:
a. Fungsi atensi
Yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepad isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan teks materi pelajaran.
b. Fungsi afektif
yaitu gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut sosiala atau ras.
c. Fungsi kognitif
Yaitu berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.
Peranan Teknologi dalam pendidikan sangat banyak diantaranya:
a. Teknologi sebagai ketrampilan (skill) dan kompetensi
Setiap pemangku kepentingan hrus memiliki kompetensi dan keahlian menggunakan teknologi pendidikan.
b. Teknologi sebagai Infrastrutur pembelajaran
Saat ini, bahan ajar banyak yang disimpan dalam format digital dengan model yang beragam seperti multimedia.
c. Teknologi sebagai sumber bahan belajar.
Ilmu pengetahuan berkembang sedemikian cepatnya, pengajar yang hebat akan selalu mengup-to-date perkembangan teknologi demi kemajuan pembelajarannya.
d. Teknologi sebagai alat bantu dan fasilitas pembelajaran
Penyampaian pengetahuan seharusnya mempertimbangkan konteks dunia nyatanya, pelajar dihrapkan melakukan eksplorasi terhadap pengetahuannya secara lebih bebas dan mandiri.
e. Teknologi sebagai pendukung manajemen pembelajaran
Setiap individu memerlukan duikungan pembelajaran tanpa henti setiap harinya. Kualitas layanan pada pengelolaan administrasi pendidikan ditingkatkan secara bertahap.
Manfaat teknologi pendidikan adalah sebagi berikut:
a. Media teknologi pendidikan membuat pendidikan lebih produktif
Teknologi memungknkan guru untuk memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien, dapat menjauhkan hal-halyang sbenarnya tidak perlu, yang kurang menunjang, seperti tugas-tugas administratif transformasi informasi.
b. Media teknologi pendidikan menunjang pengajaran individual, atau dengan kata lain memungkinkanpenerapan individualisasi dalam kegiatan pengajaran. Teknologi pendidikan memungkinkan siswa untuk dapt meneukan arah diri menurut kemampuan yang dimilki.
c. Media teknologi pendidikan membuat kegiatan pengajaran lebih ilmiah.
Teknologi pendidikan memungkinkan guru dan siswa menciptakan rangkain kerja yang sesuai dengan tujuan belajar mengajar, memberi kemudahan kepada anak untuk mengetahui apa yang sebenarnya harus ia pahami.
d. Media teknologi pendidikan dapat membuat pengajaran lebih powerfull. Media pteknologi dapat menimbulkan suatu objek tak berwujud ke dalam relita, memberi kemantapan dan percepatan pemahaman siswa, menata waktu secara efektif, dan efisien, mereduksi ukuran-ukuran suatu objek atau menyederhanakan suatu peristiwa tertentu.
e. Media teknologi pendidikan dapat membuat kegiatan belajar mengajar lebih immediate. Teknologi pendidikan dilukiskan sebagai jembatan antara dunia luar dengan dunia dalam sekolah.
f. Media teknologi pendidikan dapat membuat percepatan pendidikan lebih equal. Equel acces untuk memperkaya kegiatan pendidikan yang tidak mungkin ada tanpa sumber-sumber teknologi.
Media teknologi pendidikan mendorong dan diharapkan memberi arah kepada guru untuk melihat perbuatan mengajar sebagai upaya memecahakan masalah secara ilmiah. Materi pelajaran disajikan dalam bentuk pemecahan masalah (problem solving), melalui langkah-langkah ilmiah, logis, dan sistematis. Sementara ada dua pandangan . Pertama, guru dipandang sebagai subjek sentral dan karenanya guru dianggap mengguli segalanya. Kedua,media teknologi pendidikan dianggap dapat memberi arti yang lebih besar dalam pencapian tujuan pendidikan, yaitu dengan jalan pengadaan media teknologi yang memadai, pencapaian tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan diwujudkan.
C. Aplikasi Teknologi Pendidikan
Apabila konsep atau pengertian teknologi pendidikan kita analisis, kita akan memperoleh pedoman umum aplikasi sebagai berikut :
1. Memadukan berbagai macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi, manajemen, rekayasa, dan lain-lain secara bersistem.
2. Memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serempak, dengan memerhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan diantaranya.
3. Digunakannya teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar.
4. Timbulnya daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan dan atau unsur-unsur mempunyai nilai lebih dari sekadar penjumlahan. Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada memecahkan masalah secara terpisah.
Teknologi pembelajaran memiliki lima kawasan yang menjadi bidang garapnya, baik sebagai objek formal maupun objek materinya, yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan, pengolahan, evalusi sumber dan proses belajar. Oleh karenanya aplikasi teknologi pembelajaran juga tidak terlepas dari lima kawasan tersebut. Seels dan Richey (1994) menjelaskan bahwa demi menjaga keutuhan definisi (teknologi pembelajaran) kegiatan-kegiatan dalam setiap kawasan teknologi pembelajaran dapat dikaitkan baik kepada proses maupun sumber pembelajaran.
Masih menurut Seels dan Richey (1994), dalam Teknologi Pembelajaran praktik sangat berpengaruh terhadap evolusi bidang tersebut, bahkan lebih besar daripada teorinya. Mempraktikkan Teknologi pembelajaran akan berhadapan dengan elemen-elemen yang memudahkan atau menyulitkan praktik itu sendiri. Elemen-elemen tersebut yaitu:
1) Jenis materi pembelajaran;
2) Sifat atau karakteristik pembelajar;
3) Organisasi di mana pembelajaran berlangsung;
4) Kemampuan sarana yang tersedia;
5) Keahlian para praktisi.
Dimensi praktik teknologi pembelajaran sejalan dengan perkembangan teknologi. Pada tahun 30-an ketika komputer elektronik pertama berhasil diciptakan, teknologi pembelajaran berkembang pesat sejalan dengan teknologi tersebut. Teknologi ini melahirkan berbagai alat yang merubah dunia dalam berbagai aspeknya, mulai dari bom atom dalam mengakhiri Perang Dunia II hingga Internet sebagai jaringan informasi publik global yang mampu menghubungkan jutaan orang di seluruh penjuru dunia hanya melalui komputer yang terhubung dengan jaringan. Fenomena yang juga banyak disebut sebagai revolusi digital inilah yang mampu meyakinkan banyak orang bahwa peradaban.
Perlu diperhatikan dalam perkembangan pesat teknologi pembelajaran ini, salah satunya adalah praktik teknologi pembelajaran harus tetap memperhatikan kawasan dan memegang konsep utama yang membatasinya serta memanfaatkan dukungan dari berbagai ilmu lain yang relevan (Atwi Suparman dalam Budiningsih, 2000).9 Miarso (2004) menambahkan bahwa teknologi, termasuk teknologi pendidikan harus memililiki ciri:
1) Proses untuk meningkatkan nilai tambah (added values);
2) Menghasilkan dan memanfaatkan produk yang bervariasi dan semakin canggih;
3) Interaksi proses dan produk tersebut sebagai suatu sistem dengan lingkungannya sebagai suatu sistem yang lebih luas.
Aplikasi itu dapat berupa pelaksanaan fungsi pengembangan pendidikan / instruksional meliputi :
1. Pengakajian karakteristik dan kondisi SDM.
2. Pengkajian kemampuan SDM yang diharapkan.
3. Pengkajian kebutuhan pendidikan/latihan.
4. Perencanaan program pendidikan/latihan.
5. Pengembangan materi pendidikan/latihan.
6. Pembuatan media instruksional.
7. Penyusunan strategi instruksional.
8. Pemilihan dan penerapan teknik pembelajaran.
9. Penyebaran/penyajian pelajaran.
10. Penilaian program, proses, dan hasil pendidikan/latihan
Teknologi pendidikan merupakan suatu disiplin terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar lebih efektif, lebih efesien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat, dan sebagainya. Untuk itu ada produk yang sengaja dibuat ada yang ditemukan dan di manfaatkan. Namun perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat akhir- akhir ini dan menawarkan sejumlah kemungkinan yang semula tidak terbayangkan, telah membalik cara berpikir kita dengan “ bagaimana menganbil manfaat teknologi tersebut untuk mengatasi masalah belajar “.
Berkembangnya penerapan teknologi pendidikan boleh dikatakan berasal dari Amerika Serikat. Pada awal perkembangan sekitar ratusan tahun yang lalu teknologi itu dikenal sebagai cara mengajar dengan menggunakan alat peraga hasil buatan sendiri oleh guru di sekolah. Tiga puluh tahun kemudian (sekitar tahun 1930) penggunaan alat peraga itu berkembang dengan diproduksinya secara massal media belajar-pengajaran untuk digunakan disekolah secara meluas. Sepuluh tahun kemudian, saat Amereka Serikat terlibat dalam PD II, diperlukan banyak sekali tenaga terampil dalam mengoperasikan dan menangani peralatan perang. Untuk itu diperlukan latihan yang efektif dalam waktu yang pendek dan dapat diulang sesering mungkin. Dikembangkanlah cara pelatihan dengan menggunakan berbagai media dan simulator untuk keperluan pelatihan personel angkatn bersenjata tersebut. Mulailah dikenal istilah teknologi kinerja (performance technology).
Namun pendidikan dalam lingkungan sekolah ini lebih berorientasi teoritis dan mengganggap fungsinya adalah mempersiapkan peserta didik untuk masa depan yang siap latih. Padahal dengan semakin berkembangnya kegiatan social ekonomi diperlukan tenaga yang kompeten lebih banyak dan cepat. Hal ini memicu tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pelatihan dan kursus sebagai upaya pendidikan berkelanjutan yang bersifat terapan. Lembaga-lembaga ini ada yang berdiri sendiri, namun banyak yang merupakan bagian dari organisasi bisnis, industri dan public, serta organisasi pemerintah. Untuk mereka ini lebih tepat digunakan istilah “teknologi pembelajaran”, karena mereka lebih berkepentingan dalam membelajarkan orang dalam lingkungan kerja mereka sendiri atau pembelajaran untuk penguasaan suatu kompetensi tertentu.
Di Indonesia sendiri penerapan teknologi pembelajaran tidak jauh berbeda dengan perkembangan seperti halnya di amerika Serikat, hanya terpaut waktu yang cukup lama. Perkembangan itu boleh dikatakan baru dikenal sekitar awal tahun 1950, dengan didirikannya Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru (BKTPG) dan Balai Alat Peraga Pendidikan (BAPP) di Bandung. BKTPG yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (P3G Tertulis) bertanggung jawab untuk menyelenggarakan penataran kualifikasi guru dengan bahan pelajaran tertulis dengan berpegangan pada konsep belajar mandiri. BAPP pada awal tahun 1970 diintegrasikan dengan Pusat Pengaembangan Penataran Guru bidang studi.
Beberapa bentuk penerapan teknologi pembelajaran secara menyeluruh, yaitu yang meliputi semua komponen dan karena itu merupakan system dapat dicontohkan sebagai berikut :
• Proyek percontohan system PAMONG (Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang tua, dan Guru) di Kabupaten Karanganyar, Surakarta pada tahun 1974, dan disebarkan di Kabupaten Malang dan Gianyar pada tahun 1978.
• Pemasyarakatn P4 melalui permainan yang diujicobakan di Kabupaten Batu, Malang.
• Proyek Pendidikan Melalui Satelit (Rural Satellite Project) di Perguruan tinggi wilyah Indonesia bagian Timur (BKSPT INTIM).
• Program Pendidikan karakter melalui serial televise ACI (Aku Cinta Indonesia = Amit, Cici, Ito) = serial televise (pendidikan) pertama (dan terakhir).
• Program KEJAR Paket A dan B
• Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
• SLTP Terbuka
• Universitas Terbuka
• Sistem Belajar Jarak Jauh yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan.
• Jaringan system belajar jarak jauh (Indonesian Distance Learning Network = IDLN) dan SEAMOLEC 9SEAMEO Open Learning Center) yang berkedudukan di Pustekkom Diknas.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More