Blogroll

Postingan
Komentar

Selasa, 04 Oktober 2011

Perkembangan Peserta Didik

A. Perkembangan Peserta Didik
Perkembangan mengacu pada bagaimana seorang tumbuh, beradaptasi, dan berubah disepanjang perjalanan hidupnya. Orang tumbuh, beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik, perkembangan kepribadian, perkembangan sosioemosional (sosial dan emosi), perkembangan kognitif (berpikir), dan perkembangan manusia menurut teori Piaget (kognitif dan moral) serta teori perkembangan kognitif menurut Lev Vygotsky.

Berikut ini kita membahas perkembangan peserta didik, antara lain:
1. Perkembangan Fisik Peserta Didik
Peserta didik (anak-anak) bukan miniatur dari orang dewasa. Mereka berpikir dengan cara yang berbeda, mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda, dan mereka hidup dengan prinsip-prinsip moral dan etika yang berbeda dengan apa yang dipikir/dianut oleh orang dewasa.
Peserta didik di SD berada dalam periode peralihan dari pertumbuhan cepat masa anak-anak ke suatu fase perkembangan yang lebih lambat. Ukuran tubuh anak relatif kecil perubahannya selama tahun-tahun di SD. Pada usia 9 tahun tinggi dan berat badan anak laki-laki dan perempuan kurang lebih sama.
Pada akhir kelas empat, pada umumnya anak perempuan mulai mengalami lonjakan pertumbuhan. Lengan dan kaki mulai tumbuh cepat. Pada akhir kelas lima, umumnya anak perempuan lebih tinggi, lebih berat dan lebih kuat dari pada anak laki-laki. Anak laki-laki memulai lonjakan pertumbuhan pada usia sekitar 11 tahun. Pada awal kelas enam anak perempuan mendekati puncak tertinggi pertumbuhan. Pubertas pada anak perempuan ditandai dengan menstruasi, umumnya dimulai pada usia 12-14 tahun. Sedang anak laki-laki memasuki masa pubertas dengan ejakulasi terjadi pada usia sekitar 13 -16 tahun.
Perkembangan fisik selama masa remaja dimulai dari masa pubertas. Pada masa ini terjadi perubahan fisiologis yang mengubah manusia yang belum mampu bereproduksi menjadi mampu bereproduksi. Hampir setiap organ atau sistem tubuh dipengaruhi oleh perubahan-perubahan ini. Meskipun urutan kejadian pubertas itu sama untuk tiap orang, namun waktu dan kecepatan berlangsungnya kejadian itu bervariasi. Anak perempuan memulai perubahan pubertas 1,5 hingga 2 tahun lebih cepat dari anak laki-laki. Kecepatan perubahan itu juga bervariasi, ada yang perlu waktu 1,5 hingga 2 tahun untuk mencapai kematangan reproduksi, tetapi ada yang memerlukan waktu 6 tahun.
2. Perkembangan Sosioemosional Peserta Didik
Anak-anak menjelang masuk SD, telah mengembangkan keterampilan berpikir, bertindak, dan pengaruh sosial yang lebih komplek. Anak-anak pada usia sekitar ini, pada dasarnya egosentris dan dunia mereka adalah rumah, keluarga, dan sekolah.
Selama duduk di kelas rendah SD, anak mulai percaya diri tetapi juga sering rendah diri. Pada tahap ini mereka mulai mencoba membuktikan bahwa mereka dewasa. Mereka merasa “ saya dapat mengerjakan sendiri tugas itu”.
Konsentrasi anak mulai tumbuh pada kelas-kelas tinggi SD. Mereka dapat lebih banyak meluangkan waktu untuk tugas-tugas pilihan mereka, dan sering kali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Pada tahap ini terjadi tumbuhnya tindakan mandiri, kerja sama dengan kelompok, dan bertindak menurut cara-cara yang dapat diterima lingkungan. Mereka juga peduli terhadap permainan yang jujur.
Selama masa ini anak mulai menilai diri sendiri dengan membandingkannya terhadap orang lain. Anak-anak lebih mudah menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk norma-norma sosial yang sesuai dengan jenis tingkah laku mereka.
Sebagai akibat dari perubahan struktur fisik dan kognitif, anak pada kelas tinggi SD berupaya untuk tampak lebih dewasa. Mereka ingin diperlakukan sebagai orang dewasa. Pada masa ini tampak perubahan-perubahan yang berarti dalam kehidupan sosial dan emosional mereka. Di kelas tinggi SD anak laki-laki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Teman-teman mereka menjadi lebih penting dari pada sebelumnya. Mereka menyatakan kesetiakawanan dengan anggota kelompok teman sebaya melalui pakian atau prilaku.
Hubungan antara anak dan guru sering berubah. Di awal-awal tahun kelas tinggi SD, hubungan ini menjadi lebih komplek. Ada siswa yang menceritakan informasi pribadi kepada guru, tetapi tidak menceritakan kepada orang tuanya. Beberapa anak pra remaja memilih guru mereka sebagai model. Sementara itu ada anak membantah guru dengan cara-cara yang tidak dibayangkan seperti sebelumnya. Bahkan beberapa anak secara terbuka menentang gurunya.
Salah satu tanda mulai munculnya perkembangan indentitas diri anak remaja adalah reflektivitas, yaitu kecendrungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak mereka dan mengkaji diri sendiri. Anak remaja mulai meyakini bahwa ada perbedaan antara apa yang dipikirkan dan rasakan sebagaimana mereka berprilaku. Mereka mengkritik sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka dengan orang lain, dan mencoba untuk mengubah pribadinya. Remaja menjadi lebih sadar atas keunikan mereka dan perbedaannya dibandingkan dengan orang lain. Mereka belajar bahwa orang lain tidak dapat mengetahui apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Isu perkembangan kepribadian yang dominan pada remaja adalah “siapa dan apa sebenarnya diriku”. Inilah kepedulian utama remaja terhadap indentitas dirinya. Remaja mencapai indentitas dirinya pada usia 18 tahun sampai 22 tahun.
3. Perkembangan Intelektual Peserta Didik
Banyak ahli psikologi dan ahli pendidikan telah melakukan penelitian tentang perkembangan intelektual atau perkembangan kognitif atau perkembangan mental anak. Berikut ini kita akan membahas teori-teori perkembangan intelektual/kognitif peserta didik menurut Jean Piaget dan Lev Vygotsky.
1. Teori Jean Piaget
Jean Piaget lahir di Swiss pada tahun 1896, seorang ahli psikologi anak.
Teori Piaget dalam Mohamad Nur (2004: 9-13) tentang perkembangan kognitif anak, dapat dipahami dari sudut mengapa dan bagaimana kemampuan-kemampuan mental (pikiran) berubah dari waktu ke waktu. Penjelasannya tentang perubahan perkembangan mengasumsikan bahwa anak merupakan suatu organisme (makluk hidup) yang aktif. Selanjutnya Piaget mengatakan bahwa perkembangan sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan lingkungan.
Pola prilaku atau berpikir yang digunakan anak-anak dan orang dewasa dalam menangani objek-objek yang ada di dunia disebut skema. Skema digunakan untuk memecahkan masalah dan bertindak di dunia. Tiap-tiap skema memperlakukan seluruh objek atau kejadian dengan cara yang sama. Sebagai contoh, bayi pada umumnya akan menemukan satu hal yang dilakukan pada benda adalah membanting-bantingkannya. Bayi juga mempelajari objek-objek dengan menggigit, mengenyut, dan melempar-lemparkannya. Tiap-tiap pendekatan dalam berinteraksi dengan objek-objek, disebut skema.
Hasil penelitian Piaget, tentang perkembangan kognitif anak/peserta didik selain skema, anak juga selalu adaptasi dengan lingkungan. Adaptasi adalah proses penyesuai skema dalam merespon pada lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses memahami objek atau kejadian baru dipandang dari skema yang sudah ada. Contoh, jika bayi diberikan sebuah objek yang belum pernah ia lihat, namun mirip dengan objek yang pernah dikenal maka dengan skema yang ada bayi akan meraih objek itu, menggigit dan memukul-mukulnya. Begitupun hal yang sama terjadi pada seorang siswa SMA, ia telah memiliki skema yang tertata baik untuk belajar. Ia dapat menerapkan dan mengadaptasikan skema yang ada itu pada suatu jenis pelajaran baru, misalnya belajar mengemudikan mobil.
Kadang-kadang skema yang ada tidak dapat digunakan untuk menangani objek atau kejadian yang baru. Jika hal ini terjadi maka seorang anak dapat memodifikasi (melakukan perubahan) skema yang telah ada untuk disesuaikan dengan informasi atau pengalaman baru. Proses seperti ini disebut akomodasi. Misalnya seorang bayi diberi sebutir telur ayam, ia telah memiliki skema membanting, maka apa yang terjadi pada telur itu. Dari kejadian ini diharapkan bayi akan merubah skemanya, dimana pada masa akan datang bayi akan membanting beberapa objek dengan keras dan beberapa objek lain dipukuli dengan pelan. Atau seorang siswa SMP sudah punya skema: cahaya merambat ke segala arah secara garis lurus. Kemudian siswa ini memperoleh informasi baru tentang pembiasan dan difraksi cahaya, maka siswa harus melakukan akomodasi di dalam pikirannya tentang pembiasan dan difraksi cahaya.
Bayi yang mebanting telur dan siswa SMP, telah dihadapkan pada situasi yang tidak dapat sepenuhnya ditangani dengan skema yang ada. Keadaan ini menciptakan situasi ketidakseimbangan atau disequilibrium. Secara alamiah anak/orang akan mengurangi ketidakseimbangan seperti itu dengan memusat kepada rangsangan yang menyebabkan ketidakseimbangan dan mengembangkan skema-skema baru atau mengadapatasi skema-skema lama sampai terjadi keseimbangan. Proses pengembalian keseimbangan itu, disebut ekuilibrasi. Menurut Piaget pembelajaran bergantung pada proses ini, dimana keseimbangan sudah terganggu, anak-anak memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang. Pada akhirnya secara kualitatif cara berpikir baru tentang dunia muncul dan anak-anak akan maju ke tahap perkembangan baru. Jadi menurut Piaget pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan sangat penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Perkembangan intelektual anak atau kemampuan kognitif terjadi melalui empat tahap yang berbeda. Tiap tahap disyarati dengan munculnya kemampuan-kemampuan dan cara-cara baru dalam memproses informasi
Tahap perkembangan intektual tiap anak, selalu mengikuti tahapan-tahapan yang ada, mulai dari sensorimotor, praoperasi, operasi konkrit, dan operasi formal. Irama perkembangan tiap tahap untuk tiap anak berbeda satu dengan yang lain. Interval umur tiap tahap perkembangan intelektual yang diacu Piaget, hanyalah sebagai pedoman umum. Berdasarkan perkembangan intelektual inilah, maka umur anak sekolah ditetapkan sebagai berikut: anak masuk TK minimal umur 4 tahun, anak masuk SD minimal berumur 6 tahun. Hal ini diprediksikan bahwa anak umur 6 tahun akan mampu mengikuti/mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.
Hasil penelitian Piaget dalam Moh. Amin (1982: 46-52) diperoleh lima faktor yang mempengaruhi tingkat perkembangan intelektual/mental anak, yaitu:
a. Kematangan (Maturation)
Perkembangan sistem saraf sentral, otak, koordinasi motorik, dan proses perubahan fisiologis serta anatomis akan mempengaruhi perkembangan kognitif. Faktor kedewasaan atau kematangan ini memang berpengaruh pada perkembangan intelektual.
b. Pengalaman Fisik (Physical Experience)
Pengalaman fisik terjadi jika anak berinteraksi dengan lingkungan. Tindakan fisik ini memungkinkan anak untuk mengembangkan aktivitas dan gaya otak sehingga dapat mentransfer sesuatu dalam bentuk gagasan atau ide. Pengalaman fisik yang diperoleh anak, dapat dikembangkan menjadi matematika logika. Seperti kegiatan meraba, memegang, melihat, berkembang menjadi kegiatan berbicara, membaca, dan menghitung.
c. Pengalaman Sosial (Social Experience)
Pengalaman sosial diperoleh anak melalui interaksi sosial dalam bentuk pertukaran pendapat dengan orang lain, seperti percakapan dengan teman, perintah atasan, membaca dan sebagainya. Dengan berinteraksi kepada orang lain lambat laun sifat egosentrisnya berkurang. Melalui kegiatan diskusi anak akan memperoleh pengalaman mental. Dengan pengalaman mental memungkinkan otak bekerja dan mengembangkan cara baru untuk memecahkan persoalan. Di samping itu pengalaman sosial dapat dijadikan sebagai landasan untuk mengembangkan konsep-konsep mental seperti kerendahan hati, kejujuran, etika, moral, dan sebagainya.
d. Keseimbangan (Equilibration)
Keseimbangan merupakan suatu proses untuk mencapai tingkat fungsi kognitif yang semakin tinggi. Keseimbangan dapat dicapai melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi menyangkut pemasukan informasi dari lingkungan dan menggabungkannya dalam bagan konsep struktur (skema) yang ada pada otak anak. Akomodasi menyangkut modifikasi bagan konsep (skema) untuk merima bahan atau informasi baru.
Suatu stimulus dapat mengganggu keseimbangan, tetapi dengan respon dia dapat mengembalikan diri pada keseimbangan. Sebagai hasil adapatasi dengan lingkungan, individu secara progresif menunjukan interaksi dengan lingkungan secara lebih rasional.
2. Teori Vygotsky
Lev Semionovich Vygotsky adalah seorang ahli psikiologi Rusia. Teori Vygotsky sekarang merupakan kekuatan yang amat besar dalam psikologi perkembangan.
Teori Vygotsky dalam Mohamah Nur (2004: 44-49) didasarkan pada dua ide pokok , yaitu: pertama, bahwa perkembangan intelektual hanya dapat dipahami bila ditinjau dari konteks historis dan budaya pengalaman anak. Kedua, bahwa perkembangan tergantung kepada sistem-sistem isyarat (sign system), dengan sistem-sistem isyarat itulah individu-individu tumbuh.
Teori Piaget, mengatakan perkembangan mendahului pembelajaran, sedangkan teori Vygotsky, pembelajaran mendahului perkembangan. Pembelajaran melibatkan perolehan isyarat melalui pengajaran dan informasi dari orang lain. Pekembangan termasuk internalisasi atau penyerapan isyarat-isyarat sehingga anak dapat berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Internalisasi ini disebut pengaturan diri (self regulation).
Dalam hal melaksanakan internalisasi, seorang anak menempuh langkah-langkah berikut: pertama pengembangan pengaturan diri dan pemikiran sendiri adalah mempelajari sesuatu hal yang memiliki makna. Kedua, dalam pengembangan struktur-struktur internal dan pengaturan diri melibatkan latihan. Ketiga, penggunaan isyarat dan memecahkan masalah-masalah tanpa bantuan orang lain. Pada titik ini anak-anak menjadi mandiri atau mampu mengatur diri sendiri, dan sistem isyarat itu telah merasuk ke dalam diri mereka.
Suatu mekanisme yang ditekankan Vygotsky untuk mengalihkan pengetahuan milik bersama menjadi pengetahuan pribadi adalah bercakap-cakap sendiri (private speech) atau berguman. Berguman biasa dilakukan pada anaka-anak kecil yang sering bercakap-cakap pada diri sendiri apabila dihadapkan pada tugas-tugas sulit. Anak yang menggunakan percakapan sendiri secara ekstensif untuk mempelajari tugas-tugas komplek secara lebih efektif dibandingkan dengan anak-anak lain.
Ide pokok lain yang diturunkan dari gagasan pembelajaran sosial Vygotsky adalah perancahan (scaffolding), yaitu bantuan yang diberikan oleh teman sebaya atau orang dewasa yang lebih kompeten. Anak diberikan dukungan selama belajar pada tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar setelah ia mampu melakukannya sendiri.

B. Implikasi Perkembangan Peserta Didik dalam Pembelajaran Sains Terpadu
Teori Piaget telah memberikan dampak yang besar pada teori dan praktek pendidikan. Teori-teori itu memusatkan perhatian pada pendidikan yang cocok dengan perkembangan, seperti pendidikan dengan lingkungan, kurikulum, materi, dan pengajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik ditinjau dari kemampuan-kemampuan kognitif dan fisik serta kebutuhan-kebutuhan sosial dan emosionalnya.
Pola berpikir siswa dapat dijadikan pegangan untuk perbaikan instruksional pendidikan yang memadai atau sebagai pedoman untuk merancang pembelajaran sains yang efektif, kreatif, dan menyenangkan. Kita tidak dapat memandang seluruh anak dalam suatu kelas yang sama akan mempunyai tingkat perkembangan mental yang sama. Tetapi masa transisi itu (lihat tabel 1.1) menjadi sangat penting untuk diketahui seorang guru dalam rangka pengelolaan pengajaran.
Dalam masalah interaksi pendidikan dengan perkembangan mental, Piaget dalam Depdiknas (2004: 12-13) mengatakan bahwa pendidikan harus dipandang sebagai suatu kondisi formatif yang diperlukan dan penting untuk menuju ke perkembangan mental anak secara alamiah. Anak sudah dapat berpikir secara sistematik, abstrak, dengan menggunakan logika matematik. Tetapi tiap individu kadar perkembangan mentalnya berbeda, seperti adanya perbedaan pengalaman dan faktor-faktor pemercepat perkembangan mental, khusunya faktor pengalaman sosial.
Sekolah sebagai salah satu bentuk pendidikan formal harus dapat bertindak sebagai lingkungan yang dapat memberikan dan menambah pengalaman sosial. Pengalaman mental memungkinkan otak berkerja mengembangkan persepsi dan kemampuan untuk memecahkan masalah.
Permasalahan bagi guru ialah bagaimana mengemas proses pembelajaran agar dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa. Lingkungan belajar harus dirancang sedemikian rupa sehingga siswa diberi kesempatan untuk berlatih memecahkan masalah. Pemecahan masalah tersebut, dilakukan melalui kegiatan mental, sehingga peserta didik akan menemukan sendiri konsep maupun prinsip. Sementara itu guru bertindak sebagai fasilitator, membantu peserta didik dalam kegiatan penemuan.
Tahap perkembangan intelektual/kognitif anak SD, umumnya pada tahap operasional konkrit. Hal ini berarti bahwa pengajaran di kelas hendaknya sekonkrit mungkin dan sebanyak mungkin melibatkan pengalaman-pengalaman fisik anak. Dalam pembelajaran sains hendaknya melibatkan anak sepenuhnya. Karena kegiatan pembelajaran sains meliputi, penyentuhan, perakitan, pemanipulasian, percobaan, dan pengindraan. Artinya pembelajaran sains untuk peserta didik SD adalah alam sekitarnya dengan menggunakan pendekatan faktual.

Dalam belajar sains, ide dan pemikiran siswa sebelum pembelajaran sangat mempengaruhi proses pemebelajarannya. Ide yang dimiliki siswa sebelum pembelajaran disebut kerangka berpikir alternatif dan prekonsepsi.
Prekonsepsi dipengaruhi oleh pengalaman langsung, pengalaman berpikir, pengalaman fisik, dan emosional melalui proses-proses sosial. Anak juga sudah berupaya keras memahami hal-hal yang ada di dunia sekitarnya. Prekonsepsi yang dibawa anak masing-masing tidak sama, ada yang sudah sesuai dengan kebenaran sains, tetapi ada yang tidak sesuai dengan kebenaran sains yang diajarkan di sekolah. Anak yang sudah mempunyai prekonsepsi yang sesuai dengan kebenaran sains yang diajarkan di sekolah, akan meras mudah menerima pelajaran tersebut tetapi jika sebaliknya maka dia akan kesulitan belajar. Disinilah bantuan guru sangat diperlukan agar peserta didik mencapai keseimbangan.
Proses pendidikan sains di Sekolah Menengah (SMP/MTs, SMA/STM/MA) diharapkan siswa mampu mencapai tingkat berpikir secara formal. Peserta didik sebelumnya telah memiliki konsep konkrit, namun melalui proses akomodasi terbentuklah konsep formal. Pola berpikir formal kadang-kadang menimbulkan kesulitan bagi sebagian siswa. Untuk menanggulangi kesulitan ini maka sebaiknya guru selalu memulai dari konsep konkrit, hingga akhirnya siswa dapat memahami konsep formal. Disinilah peranan adanya pengulangan materi, kegiatan demonstrasi atau percobaan, untuk menunjukkan konsep konkrit dan dijadikan titik acuan untuk penemuan konsep formal.
Peserta didik SMP/MTs (usia 12-15 tahun) yang merupakan masa transisi dari operasi konkrit ke operasi formal maka proses pembelajarana sains mengunakan pendekatan kontekstual sedangkan peserta didik SMA/STM/MA (usia 15 tahun ke atas) yang berpikir formal maka proses pembelajaran sains terpadu yang dapat dilaksanakan adalah dengan pendekatan konseptual, kontruktivisme, kontekstual, penemuan (discovery), inkuiri, keterampilan proses, pendekatan STM, dan lainnya.
Selain itu, Vygotsky dalam Mohamad Nur (2004: 49-50) mengatakan bahwa pendidikan/pembelajaran memiliki dua implikasi utama, yaitu: 1) mewujudkan tatanan pembelajaran kooperatif di antara kelompok-kelompok siswa dengan tingkat kemmpuan yang berbeda. Penuturan oleh teman sebaya yang lebih kompeten akan paling efektif dalam memperkembangkan pertumbuhan di dalam zona perkembangan terdeket. 2) pendekatan dalam pengajaran menekankan perancahan (scaffolding). Siswa semakin lama semakin mengambil tanggung jawab untuk pembelajarannya sendiri. Dalam (scaffolding) pendekatan yang dilakukan adalah “penemuan terbimbing” (assited discovery) di mana siswa menggunakan percakapan sendiri untuk berbicara pada diri sendiri dalam memecahkan suatu masalah.
Dengan memahami kedua teori di atas, maka guru sains hendaknya sebelum pembelajaran dimulai, sudah mempelajari bagaimana perkembangan fisik, perkembangan sosioemosional, dan perkembangan intelektual anak didiknya. Berdasarkan pemahaman itulah guru dalam merancang pembelajaran IPA terpadu harus memeperhatikan hal-hal berikut: karakteristik peserta didik, tujuan pembelajaran, materi pelajaran, pendekatan/metode pembelajaran, dan lingkungan belajar serta bagaimana mengevaluasi proses belajar dan hasil belajar siswa.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More